DAMPAK POLUSI TERHADAP MANUSIA
A.
DAMPAK
POLUSI UDARA, AIR, TANAH BAGI KEHIDUPAN MANUSIA
1)
Dampak polusi udara bagi kehidupan
manusia
1.
Gangguan kesehatan :
a.
Karbon monoksida
Di atmosfer, gas karbon monoksida (CO) sangat sedikit, sekitar 0,1 ppm. Di daerah perkotaan dengan lalu lintas padat, konsentrasi gas CO dapat mencapai 10-15 ppm. Gas CO yang terhirup dapat bereaksi dengan hemoglobin pada sel darah merah sehingga menghalangi pengangkutan oksigen yang sangat dibutuhkan tubuh. Efek yang ditimbulkan adalah pusing, sakit kepala, rasa mual, ketidaksadaran (pingsan), kerusakan otak, dan kematian. Gas CO dapat berdampak pada kulit dan menyebabkan masalah jangka panjang pada penglihatan.
Di atmosfer, gas karbon monoksida (CO) sangat sedikit, sekitar 0,1 ppm. Di daerah perkotaan dengan lalu lintas padat, konsentrasi gas CO dapat mencapai 10-15 ppm. Gas CO yang terhirup dapat bereaksi dengan hemoglobin pada sel darah merah sehingga menghalangi pengangkutan oksigen yang sangat dibutuhkan tubuh. Efek yang ditimbulkan adalah pusing, sakit kepala, rasa mual, ketidaksadaran (pingsan), kerusakan otak, dan kematian. Gas CO dapat berdampak pada kulit dan menyebabkan masalah jangka panjang pada penglihatan.
b.
Sulfur Oksida
Sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon pada Konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan. Ketiga gas tersebut dalam waktu cukup lama dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang kronis, seperti bronkitis, erfisema, dan asma. Penyakit ini umumnya ditandai kesulitan bernapas (sesak) akibat kerusakan organ pernapasan. Sulfur oksida dan ozon bersifat racun bagi tumbuhan, pada konsentrasi tertentu dapat menyebabkan kematian
Sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon pada Konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan. Ketiga gas tersebut dalam waktu cukup lama dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang kronis, seperti bronkitis, erfisema, dan asma. Penyakit ini umumnya ditandai kesulitan bernapas (sesak) akibat kerusakan organ pernapasan. Sulfur oksida dan ozon bersifat racun bagi tumbuhan, pada konsentrasi tertentu dapat menyebabkan kematian
c.
Materi Partikulat
Materi partikulat, seperti serbuk batu bara, serbuk kuarsa, dan serat asbes, dapat menyebabkan penyakit paru-paru. di area pabrik, konstruksi bangunan, dan pertambangan Pekerja di area itu beresiko tinggi terkena penyakit ini dan penyakit dapat lebih parah mulai dari peradangan sampai pembentukan tumor. Timbal sangat beracun (toksik) dan bisa terakumulasi dalam tubuh, serta menyerang berbagai tubuh, seperti sistem pencernaan dan sistem saraf.,fungsi jantung dan ginjal. Timbal dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anak.
Materi partikulat, seperti serbuk batu bara, serbuk kuarsa, dan serat asbes, dapat menyebabkan penyakit paru-paru. di area pabrik, konstruksi bangunan, dan pertambangan Pekerja di area itu beresiko tinggi terkena penyakit ini dan penyakit dapat lebih parah mulai dari peradangan sampai pembentukan tumor. Timbal sangat beracun (toksik) dan bisa terakumulasi dalam tubuh, serta menyerang berbagai tubuh, seperti sistem pencernaan dan sistem saraf.,fungsi jantung dan ginjal. Timbal dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anak.
d.
Asap Rokok
mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo-a-pyrene dan formaldehid yang berpotensi menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo-a-pyrene dan formaldehid yang berpotensi menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker paru-paru.
e.
Zat-zat penyebab kanker
Zat-zat penyebab kanker seperti kloroform, para-diklorobenzena, tetrakloroetilen, trikloroetan, dan radioaktif (misalnya radon). Zat-zat tersebut merupakan jenis polutan udara di dalam ruangan (indoor air pollutants) yang berpotensi menimbulkan kanker bila terdapat dalam konsentrasi tinggi.
Zat-zat penyebab kanker seperti kloroform, para-diklorobenzena, tetrakloroetilen, trikloroetan, dan radioaktif (misalnya radon). Zat-zat tersebut merupakan jenis polutan udara di dalam ruangan (indoor air pollutants) yang berpotensi menimbulkan kanker bila terdapat dalam konsentrasi tinggi.
f.
Suara
Kontak dengan suara bising dalam waktu lama dapat menimbulkan kerusakan organ pendengaran. Kerusakan dapat bersifat permanen, seperti ketulian. Polusi suara juga dapat mempengaruhi sistem tubuh lainnya. Suara yang bising dapat menyebabkan gangguan pada jantung, sakit kepala, dan stres secara psikologis.
Kontak dengan suara bising dalam waktu lama dapat menimbulkan kerusakan organ pendengaran. Kerusakan dapat bersifat permanen, seperti ketulian. Polusi suara juga dapat mempengaruhi sistem tubuh lainnya. Suara yang bising dapat menyebabkan gangguan pada jantung, sakit kepala, dan stres secara psikologis.
Gangguan
kesehatan yang diakibatkan adanya pencemaran udara dikelompokkan menjadi 4
yaitu:
a. Korosif: bahan pencemar bersifat
merangsang terjadinya proses peradangan pernapasan pada bagian atas.
b. Asfiksia: ini terjadi menyusul
berkurangnya kemampuan tubuh dalam mengikat oksigen atau berkurangnya kadar
oksigen didalam tubuh.
c. Anesthesia: adalah dampak pencemaran
udara yang bersifat menekan susunan saraf pusat sehingga mengakibatkan
kehilangan kesadaran.
d.
Toksis: dampak yang ditimbulkan adalah
timbulnya gangguan pada sistem pembuatan darah dan menyebabkan keracunan pada
susunan saraf.
2)
Dampak polusi air bagi kehidupan manusia
1.
Gangguan Kesehatan :
Air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun senyawa anorganik akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan karena mudah menjadi media berkembangnya berbagai macam penyakit. Pencemaran air dapat terjadi di air yang tergenang (tidak mengalir), air yang mengalir di permukaan, atau air tanah.
Berbagai penyakit karena pencemaran air :
Air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun senyawa anorganik akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan karena mudah menjadi media berkembangnya berbagai macam penyakit. Pencemaran air dapat terjadi di air yang tergenang (tidak mengalir), air yang mengalir di permukaan, atau air tanah.
Berbagai penyakit karena pencemaran air :
a. Penyakit
menular, karena air yang tercemar menjadi media bagi perkembangbiakan dan
persebaran mikroorganisme, termasuk mikroba pathogen dan tidak bersih lagi. Air
yang tercemar oleh limbah organik, terutama yang berasal. dari industri
pengolahan makanan dan kotoran manusia atau hewan merupakan tempat yang subur
untuk perkembangbiakan mikroorganisme. Mikroorganisme patogen yang berkembang
biaK dalam air menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit menular
VIRUS
|
||
Jenis Mikroba
|
Penyakit
|
Gejala Penyakit
|
Virus Hepatitis A
|
Hepatitis A
|
Demam,
sakit kepala, sakit perut, kehilangan selera makan. pembengkakan hati
sehingga tubuh menjadi kuning
|
Virus Polio
|
Poliomyletis
|
Tenggorokan
sakit, demam, diare, sakit pada tungkai dan punggung, kelumpuhan dan
kemunduran fungsi otot
|
BAKTERI
|
||
Jenis Mikroba
|
Penyakit
|
Gejala Penyakit
|
Vibrio cholerae
|
Kolera
|
Diare yang sangat parah,
muntah-muntah, kehilangan cairan sangat banyak sehingga menyebabkan kejang
dan lemas
|
Escherichia coli
|
Diare
|
Buang air besar berkali-kali
dalam sehari, kotoran encer (mengandung banyak air), terkadang diikuti rasa
mulas atau sakit perut
|
Salmonella typhosa
|
Tipus
|
Sakit kepala, demam, diare,
muntah-muntah, peradangan dan pendarahan usus
|
Shigella disentriae
|
Disentri
|
Infeksi
usus besar, diare, kotoran mengandung lendir dan darah, sakit perut
|
PROTOZOA
|
||
Jenis Mikroba
|
Penyakit
|
Gejala Penyakit
|
Entamoeba histolytica
|
Disentri amoeba
|
Sama seperti disentri bakteri
|
Balantidium coli
|
Balantidiasis
|
Peradangan usus, diare berdarah
|
Giardia lambia
|
Giardiasis
|
Diare, sakit
perut, terbentuk gas dalam perut, bersendawa, keletahan
|
METAZOA (CACING PARASIT)
|
||
Jenis
Parasit
|
Penyakit
|
Gejala
Penyakit
|
Ascaris
lumbricoides (cacing getang)
|
Ascariasis
|
Demam,
sakit perut yang parah, matabsorbsi, muntah-muntah, ketelahan
|
Taenia
saginata
(cacing pita) |
Taenisiasis
|
Gangguan
pencernaan, rasa mual, kehitangan berat badan, rasa gatat di anus
|
Schistosoma
sp. (cacing pipih)
|
Schistosomiasis
|
Gangguan
pada hati dan kantung kemih sehingga terdapat darah daLam urin, diare, tubuh
lemas, sakit perut yang terjadi berulang-ulang
|
b. Penyakit
tidak menular, Penyakit tidak menular dapat muncul terutama karena air telah
tercemar oleh senyawa anorganik, seperti logam berat. Namun, ada juga senyawa
organik yang dapat menimbulkan penyakit, terutama yang mengandung unsur klorin
(CI), seperti DDT dan PCB. Polutan-polutan ini dapat menimbulkan penyakit
karena sifatnya beracun bagi tubuh.
Beberapa polutan :
Beberapa polutan :
š
Kadmium (Cd), logam berat yang digunakan
oleh banyak industri dalam proses produksinya. Contohnya, pabrik pipa PVC,
pabrik pembuatan karet, dan pabrik kaca. Logam Cd dapat terserap tubuh manusia,
dan akan terakumulasi di organ-organ tubuh, terutama di ginjal dan hati. Keracunan
kadmium memengaruhi otot polos pembuluh darah, sehingga tekanan darah menjadi
tinggi dan dapat menyebabkan gagal jantung. Keracunan kadmium mengakibatkan
kerusakan pada organ ginjal dan hati.
š
Kobalt (Co), digunakan dalam industri
sebagai bahan campuran untuk pembuatan mesin pesawat, magnet, alat pemotong
atau penggiling, serta untuk pewarna kaca, keramik, dan cat. Co dibutuhkan
sedikit dalam proses pembentukan sel darah merah dan diperoleh melalui vitamin
B12. Kobalt dalam konsentrasi tinggi (150 ppm atau lebih) di tubuh manusia akan
merusak kelenjar tiroid (gondok) sehingga penderita akan kekurangan hormon yang
dihasilkan kelenjar tersebut, juga menyebabkan gagal jantung dan edema
(pembengkakan jaringan akibat akumulasi cairan dalam sel).
š
Merkuri (Hg), merkuri untuk berbagai
proses industri, seperti proses pembuatan klorin atau juga terdapat pada
baterai, cat, plastik, termometer, lampu tabung, kosmetik, dan hasil pembakaran
batu bara. Logam merkuri terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup berasal dari
konsumsi hewan-hewan air yang telah tercemar merkuri. Efek merkuri : merkuri
dapat menyebabkan janin menjadi cacat mental (pada wanita hamil), menyebabkan
kerusakan ginjal, saraf, dan jantung , pada konsentrasi rendah, merkuri dapat
menimbulkan sakit kepala, depresi, dan perubahan perilaku.
š
Timbal (Pb), berasal dari berbagai
sumber, seperti rembesan Pb dari sampah kaleng yang mengandung timbal, cat yang
mengandung timbal, bahan bakar bertimbal, pestisida, dan dari korosi pipa-pipa
yang mengandung timbal. Konsentrasi > 15 mg/di dalam darah dianggap
berbahaya bagi kesehatan . Pb dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur,
atau kematian janin, pada anak-anak menyebabkan kecacatan mental dan gangguan
fisik, pada orang dewasa timbal meningkatkan resiko terkena hipertensi (tekanan
darah tinggi).
Senyawa Organik Berklorin, Contohnya adalah dikloro-difenil¬:rikloroetana (DDT), aldrin, heptaklor, dan klordan yang menjadi insektisida, juga senyawa kimia industri ada yang merupakan senyawa organik berklorin, contohnya poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Senyawa tersebut terakumulasi dalam lubuh makhluk hidup dan konsentrasinya terus meningkat pada posisi piramida makanan yang lebih tinggi. Senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ, terutama hati dan ginjal, serta beberapa diteliti dapat menimbulkan kanker.
Senyawa Organik Berklorin, Contohnya adalah dikloro-difenil¬:rikloroetana (DDT), aldrin, heptaklor, dan klordan yang menjadi insektisida, juga senyawa kimia industri ada yang merupakan senyawa organik berklorin, contohnya poliklorinasi bifenil (PCB) dan dioksin. Senyawa tersebut terakumulasi dalam lubuh makhluk hidup dan konsentrasinya terus meningkat pada posisi piramida makanan yang lebih tinggi. Senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ, terutama hati dan ginjal, serta beberapa diteliti dapat menimbulkan kanker.
2.
Air tidak bermanfaat sesuai
peruntukkannya
Pencemaran air oleh berbagai jenis polutan akan menyebabkan air tidak dapat lagi digunakan untuk berbagai keperluan manusia. Contohnya :
Pencemaran air oleh berbagai jenis polutan akan menyebabkan air tidak dapat lagi digunakan untuk berbagai keperluan manusia. Contohnya :
a. Air
tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rumah tangga. Pencemaran air oleh
berbagai jenis limbah akan menyebabkan air berbau dan keruh serta dapat
mengandung kuman atau zat berbahaya. Air yang tercemar ini tentu tidak akan
dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari manusia, seperti untuk minum,
memasak, mandi, dan mencuci.
b. Air
tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan industri. Air yang telah tercemar
dapat menyebabkan proses produksi terhambat karena air tidak dapat lagi
digunakan. Misalnya, air yang telah tercemar minyak tidak dapat digunakan sebagai
pelarut di industri kimia.
c. Air
tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian dan perikanan, Pencemaran
air, misalnya oleh senyawa anorganik, akan menyebabkan air tidak dapat digunakan
lagi. Ha ini disebabkan senyawa anorganik dapat mengubah pH perairan secara
drastis. Perubahan pH tersebut dapat mematikan hewan dan tanaman. Selain itu,
beberapa senyawa anorganik sifatnya beracun bagi hewan atau tanaman.
3.
Menurunnya beberapa populasi biota air
Berbagai biota air, seperti ganggang, ikan, udang, kerang, da¬terumbu karang, merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia. Menurunnya populasi biota ini akan membawa kerugian besarseperti kekurangan sumber pangan ,menghilangkan mata pencaharian sebagian orang, ataupun mengganggu keseimbangan ekosistem. Beberapa poutan yang sifatnya berbahaya bagi biota air di antaranya adalah nutrien tumbuhan, limbah yang membutuhkan oksigen, minyak, sedimen, dan panas.
Berbagai biota air, seperti ganggang, ikan, udang, kerang, da¬terumbu karang, merupakan sumber daya yang sangat penting bagi manusia. Menurunnya populasi biota ini akan membawa kerugian besarseperti kekurangan sumber pangan ,menghilangkan mata pencaharian sebagian orang, ataupun mengganggu keseimbangan ekosistem. Beberapa poutan yang sifatnya berbahaya bagi biota air di antaranya adalah nutrien tumbuhan, limbah yang membutuhkan oksigen, minyak, sedimen, dan panas.
a. Nutrien
Tumbuhan :Perairan yang mengandung polutan nutrient tumbuhan seperti fosfat dan
nitrogen dalam jumlah berlebih disebut eutrofikasi. Eutrofikasi akan
menyebabkan ganggang (algae) berkembang biak dengan subur sehingga populasinya
meningkat pesat. Kejadian ini sering disebut algae blooming. Algae blooming
dapat menyebabkan beberapa gangguan perairan, di antaranya adalah mengganggu
penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan karena permukaannya tertutupi oleh
populasi ganggang. Ganggang mengganggu kehidupan biota air di perairan tersebut
karena ganggang tersebut dapat menyebabkan keracunan dan dapat meningkatkan BOD
pada penguraiannya.
b. Limbah
yang membutuhkan oksigen : pencemaran air oleh limbah yang membutuhkan oksigen
juga akan menyebabkan peningkatan BOD di perairan akibat tingginya populasi
bakteri aerob (membutuhkan oksigen) yang membusukkan limbah. Peningkatan BOD
akan menurunkan DO perairan sehingga menurunkan populasi biota air yang tidak
toleran terhadap kandungan DO yang rendah.
c. Minyak
: Pencemaran minyak banyak terjadi di lautan atau pantai. pencemaran minyak di
perairan dapat menyebabkan kematian bagi banyak jenis biota air, seperti
terumbu karang. Kematian ini disebabkan adanya senyawa dalam minyak yang
sifatnya beracun bagi biota air tersebut. Pencemaran minyak menyebabkan
gangguan fisiologis seperti hilangnya kemampuan mengapung atau kemampuan
menjaga suhu tubuh sehingga hewan dapat mati karena tenggelam atau karena
kehilangan panas tubuh secara drastis.
d. Sedimen
: Pencemaran sedimen di perairan dapat menyebabkan air menjadi keruh sehingga
mengurangi jarak penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Hal ini akan
menyebabkan kemampuan fotosintesis ganggang dan tumbuhan air menurun sehingga
populasinya berkurang dan menyebabkan populasi lainnya menurun. Sedimen juga
dapat menyumbat aliran air, membawa endapan senyawa toksin, dan menutupi
terumbu karang serta makhluk hidup lain di dasar perairan.
e. Panas
: Polusi panas atau termal dapat menyebabkan perubahan suhu perairan secara
drastis. Hal ini akan mengakibatkan kematian berbagai biota air yang tidak
mampu beradaptasi terhadap perubahan suhu tersebut. Panas juga dapat menurunkan
DO di perairan.
3)
Dampak polusi tanah bagi kehidupan
manusia
1. Dampak Pada Kesehatan
Dampak
pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung , jalur masuk ke dalam tubuh dan
kerentanan populasi yang terkena. Kromium , berbagai macam pestisida dan
herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat
berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta
kerusakan ginjal. Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada
konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia.
Merkuri (air
raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, dan mungkin
tidak bisa diobati, PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati,
Organofosfat dan karmabat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Ada beberapa
macam dampak pada kesehatan seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata
dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada
dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan Kematian.
2. Dampak Pada Lingkungan Atau Ekosistem
Dampak pada
pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat
menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak
lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan
tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang
dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan
pencemar tanah utama.
Pencemaran tanah
juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang
radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada
dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan
metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan
tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari
rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau
tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.
B.
DAMPAK
POLUSI UDARA
a.
Asap dan Kabut
·
Kabut asap dapat menyebabkan iritasi
pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan
dan mungkin juga infeksi.
·
Kabut asap dapat memperburuk asma dan
penyakit paru kronis lain. Seperti bronkitis kronik, PPOK (Penyakit Paru
Obstruktif Kronik).
·
Kemampuan kerja paru menjadi berkurang
dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
·
Mereka yang berusia lanjut dan anak-anak
(juga mereka yang punya penyakit kronik) dengan daya tahan tubuh rendah akan
lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan
·
Kemampuan paru dan saluran pernapasan
mengatasi infeksi berkurang. Sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
·
Secara umum berbagai penyakit kronik
juga dapat memburuk.
·
Bahan polutan di asap kebakaran hutan
yang jatuh ke permukaan bumi, kemungkinan juga dapat menjadi sumber polutan di
sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
·
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah
terjadi, terutama karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh (host),
pola bakteri/virus dan lain-lain penyebab penyakit (agent) dan
buruknya lingkungan (environment).
b.
Hujan Asam
·
Memengaruhi kualitas air permukaan bagi
biota yang hidup di dalamnya. Suatu penelitian menunjukkan terdapat hubungan
yang erat antara penurunan pH dengan penurunan populasi ikan dan biota air
lainnya di perairan.
·
Hujan asam dapat merusak jaringan
tanaman sehingga menghambat pertumbuhannya dan dapat menyebabkan kematian.
·
Melarutkan logam-logam berat yang
terdapat dalam tanah, sehingga memengaruhi kualitas air tanah dan air
permukaan. Air yang telah tercemar logam berat jika dikonsumsi dapat
menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
·
Bersifat korosif, sehingga merusak
berbagai bahan logam seperti mobil dan pagar, monumen dan patung atau komponen
bangunan.
·
Menyebabkan penyakit pernapasan.
·
Pada ibu hamil, dapat menyebabkan bayi
lahir prematur dan meninggal.
c.
Pemanasan Global
·
Menambah volume air laut sehingga
permukaan air laut akan naik.
·
Menimbulkan banjir di daerah pantai.
·
Dapat menenggelamkan pulau-pulau dan
kota-kota besar yang di tepi laut
·
Meningkatkan penyebaran penyakit
menular.
·
Curah hujan di daerah yang beriklim
tropis akan lebih tinggi dari normal.
·
Tanah akan lebih cepat kering, walaupun
sering terkena hujan. Kekeringan tanah ini akan mengakibatkan banyak tanaman
mati. Dengan demikian, di beberapa tempat dapat mengalami kekurangan makanan.
·
Akan sering terjadi angin besar di
berbagai tempat.
·
Berpindahnya hewan ke daerah yang lebih
dingin.
·
Musnahnya hewan dan tumbuhan, termasuk
manusia, yang tidak mampu berpindah atau beradaptasi dengan suhu yang lebih
tinggi.
·
Meningkatnya suhu global berakibat juga
terhadap meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim serta perubahan
jumlah dan pola presipitasi. Intensitas dan pola musim hujan yang makin
menyimpang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Proses
terjadinya hujan asam
Atmosfer
dapat mengangkut berbagai zat pencemar ratusan kilometer jauhnya, sebelum
menjatuhkannya kepermukaan bumi. Dalam perjalanan jauhnya, Atmosfer bertindak
sebagi reaktor kimia yang kompleks merubah cat pencemar setelah
berinteraksi pada zat lain, uap air dan energi matahari. Pada kondisi dimana SO2
bereaksi menjadi uap air membentuk H2SO4
(asam sulfat) dan NO2 bereaksi dengan air uap air membentuk HNO3
(asam nitrat) yang selanjutnya turun kepermukaan bumi bersama air hujan yang
dikenal dengan hujan asam, air hujan dengan pH 5,6 dapat menimbulkan kerusakan
berbagai jenis logam.
Proses
terjadinya Pemanasan Global

1. Gas rumah kaca memerangkap
panas
2. Energi matahari diserap dan dipantulkan oleh atmosfer
bumi
3. Permukaan bumi meresap dan meradisaikan energi
matahari yang diserap ke luar angkasa
4. Gas rumah kaca menyerap panas yang diradiasikan
melalui atmosfer
5. Gas meradiasikan kembali panas ke segala arah sebagian
besar tetap di atas
6. Lebih banyak gas artinya lebih banyak panas yang
terperangkap di atmosfer
7. Otomatis suhu akan meningkat
8. Terjadilah global warming
C.
DAMPAK
POLUSI AIR TERHADAP KEHIDUPAN BIOTA PERAIRAN
a.
Dampak polusi sedimen
Pencemaran sedimen di perairan dapat menyebabkan air
menjadi keruh sehingga mengurangi jarak penetrasi cahaya matahari ke dalam
perairan. Hal ini akan menyebabkan kemampuan fotosintesis ganggang dan tumbuhan
air menurun sehingga populasinya berkurang dan menyebabkan populasi lainnya
menurun. Sedimen juga dapat menyumbat aliran air, membawa endapan senyawa
toksin, dan menutupi terumbu karang serta makhluk hidup lain di dasar perairan.
b.
Dampak polusi nutrien tumbuhan
Perairan yang mengandung polutan nutrient tumbuhan
seperti fosfat dan nitrogen dalam jumlah berlebih disebut eutrofikasi.
Eutrofikasi akan menyebabkan ganggang (algae) berkembang biak dengan subur
sehingga populasinya meningkat pesat. Kejadian ini sering disebut algae
blooming. Algae blooming dapat menyebabkan beberapa gangguan perairan, di
antaranya adalah mengganggu penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan karena
permukaannya tertutupi oleh populasi ganggang. Ganggang mengganggu kehidupan
biota air di perairan tersebut karena ganggang tersebut dapat menyebabkan keracunan
dan dapat meningkatkan BOD pada penguraiannya.
c.
Dampak limbah yang membutuhkan oksigen
pencemaran air oleh limbah yang membutuhkan oksigen
juga akan menyebabkan peningkatan BOD di perairan akibat tingginya populasi
bakteri aerob (membutuhkan oksigen) yang membusukkan limbah. Peningkatan BOD
akan menurunkan DO perairan sehingga menurunkan populasi biota air yang tidak
toleran terhadap kandungan DO yang rendah.
d.
Dampak limbah minyak
Pencemaran minyak banyak terjadi di lautan atau
pantai. pencemaran minyak di perairan dapat menyebabkan kematian bagi banyak
jenis biota air, seperti terumbu karang. Kematian ini disebabkan adanya senyawa
dalam minyak yang sifatnya beracun bagi biota air tersebut. Pencemaran minyak
menyebabkan gangguan fisiologis seperti hilangnya kemampuan mengapung atau
kemampuan menjaga suhu tubuh sehingga hewan dapat mati karena tenggelam atau
karena kehilangan panas tubuh secara drastis.
D.
DAMPAK
POLUSI TANAH TERHADAP KEGIATAN MANUSIA
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme
tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini
dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak
mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki
waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan
terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
Pencemaran
tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah
yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada
dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan
metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan
tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari
rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau
tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.
E.
PENANGANAN
LIMBAH
a.
Metode dan tahapan pada pengolahan
limbah cair
Metode
dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat
beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan
membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan
tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa
proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat
dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.
1. Pengolahan
Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan
primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan secara
fisika.
A.
Penyaringan (Screening)
Pertama,
limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji
saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara
yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari
air limbah.
B.
Pengolahan Awal (Pretreatment)
Kedua,
limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang
berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber
dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel –
partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk
proses selanjutnya.
C.
Pengendapan
Setelah
melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak
pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang paling
banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair.
Di tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel –
partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar
tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan
dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain
metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).
D.
Pengapungan (Floation)
Metode
ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak.
Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan
gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara
tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air
limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila
limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui
proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses
pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan).
Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit
dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau
senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan
ke proses pengolahan selanjutnya.
2.
Pengolahan Sekunder (Secondary
Treatment)
Tahap pengolahan
sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan
mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme
yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat
tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated
sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
A.
Metode Trickling Filter
Pada
metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik
melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan
batu atau plastik, dengan dengan ketebalan ± 1 – 3 m. limbah cair
kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media
tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah
akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan
media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke
tangki pengendapan.
Dalam
tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk
memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah.
Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut,
sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses
pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan
B.
Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur
aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur
dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob.
Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam,
dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi
dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah
disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara
lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti
pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat
dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.
C.
Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam
perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif
lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka.
Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen.
Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses
penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang
kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan
mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan
didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah
lebih lanjut.
3.
Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
Pengolahan tersier dilakukan jika setelah
pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair
yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier
bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang
tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan
sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat
anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan
tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment).
Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh
metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir,
saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan
dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang
diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini disebabkan biaya yang
diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi sehingga
tidak ekonomis.
4.
Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi
atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme
patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu
dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam
menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan, yaitu :
Ø Daya
racun zat
Ø Waktu
kontak yang diperlukan
Ø Efektivitas
zat
Ø Kadar
dosis yang digunakan
Ø Tidak
boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
Ø Tahan
terhadap air
Ø Biayanya
murah
Contoh
mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз).
Proses desinfeksi pada limbah cair
biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah
pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.
5.
Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik
primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa
lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu
diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan
diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian
disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan
pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).
b.
Metode dan tahapan pada pengolahan
limbah padat
1. Penimbunan
Terbuka
Terdapat dua
cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan terbuka (open
dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode penimbunan
terbuka, . Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kuman penyebab
penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan
sampah organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta
mudah terbakar. Cairan yang tercampur dengansampah dapat merembes ke tanah dan
mencemari tanah serta air.
2. Sanitary Landfill
Pada metode sanitary
landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi iapisan lempung dan
lembaran plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah. Pada landfill
yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem Iapisan ganda (plastik –
lempung – plastik – lempung) dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan
serta gas metan yang terbentuk dari proses pembusukan sampah. Gas tersebut
kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
Ada 3
metode sanitary landfill, yaitu :
a. Metode
galian parit (trenc method), sampah dibuang ke dalam galian parit
yang memanjang. Tanah bekas galian digunakan untuk menutup parit. Sampah yang
ditimbun dipadatkan dan diratakan. Setelah parit penuh, dibuatlah parit baru di
sebelah parit yang telah penuh tersebut.
b. Metode
area,
sampah dibuang di atas tanah yang rendah, rawa, atau lereng kemudian ditutupi
dengan tanah yang diperoleh ditempat itu.
c. Metode
ramp, merupakan
gabungan dari metode galian parit dan metode area. Pada area yang rendah, tanah
digali lalu sampah ditimbun tanah setiap hari dengan ketebalan 15 cm, setelah
stabil lokasi tesebut diratakan dan digunakan sebagai jalur hijau (pertamanan),
lapangan olah raga, tempat rekreasi dll.
3. Insinerasi
Insinerasi
adalah pembakaran sampah/limbah padat menggunakan suatu alat yang disebut insinerator.
Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat
banyak (bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas
yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan.
4. Pembuatan kompos padat dan cair
Metode ini
adalah dengan mengolah sampah organic seperti sayuran, daun-daun kering,
kotoran hewan melalui proses penguraian oleh mikroorganisme tertentu. Pembuatan
kompos adalah salah satu cara terbaik dalam penanganan sampah organic.
Berdasarkan bentuknya kompos ada yang berbentuk padat dan cair.
Pembuatannya dapat dilakukan dengan menggunakan kultur mikroorganisme, yakni
menggunakan kompos yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran seperti EMA
efectif microorganism 4.EMA merupakan kultur campuran mikroorganisme yang dapat
meningkatkan degaradasi limbah atau sampah organic.
5. Daur
Ulang
Daur ulang
adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan
tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya
dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru,
mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan
emisi gas rumah kaca jika
dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu
strategi pengelolaan sampah padat yang
terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan
pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen
sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce,
and Recycle).
Material-material
yang dapat didaur ulang dan prosesnya diantaranya adalah:
a. Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah
dikumpulkan dihancurkan dengan mesin penghancur,
kadang-kadang bersamaan dengan aspal, batu bata, tanah, dan
batu.
Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi pelapis jalan semacam aspal dan
hasil yang lebih halus bisa dipakai untuk membuat bahan bangunan baru semacam
bata.
b. Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai
membuat proses daur ulang bahan ini relatif sulit. Mereka harus disortir
terlebih dahulu, dan tiap jenis memiliki perhatian khusus dalam pemrosesannya.
Misalnya, baterai jenis lama masih mengandung merkuri dan kadmium,
harus ditangani secara lebih serius demi mencegah kerusakan lingkungan dan kesehatan
manusia. Baterai mobil
umumnya jauh lebih mudah dan lebih murah untuk didaur ulang.
c. Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti
komputer dan handphone umumnya tidak didaur ulang karena belum jelas
perhitungan manfaat ekonominya. Material yang dapat didaur ulang dari barang
elektronik misalnya adalah logam yang terdapat pada barang elektronik tersebut
(emas, besi, baja, silikon,
dll) ataupun bagian-bagian yang masih dapat dipakai (microchip, processor, kabel, resistor, plastik,
dll). Namun tujuan utama dari proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan,
sudah jelas dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini
meski manfaat ekonominya
masih belum jelas.
d. Logam
Besi dan baja
adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di dunia. Termasuk salah
satu yang termudah karena mereka dapat dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet.
Daur ulang meliputi proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan
kembali. Hasil yang didapat tidak mengurangi kualitas logam tersebut.
Contoh lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
Contoh lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan logam sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.
e. Bahan Lainnya
Ø Kaca dapat
juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain sebagainya dibersihkan
dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan bersama-sama dengan material kaca baru.
Dapat juga dipakai sebagai bahan bangunan dan jalan. Sudah ada Glassphalt,
yaitu bahan pelapis jalan dengan menggunakan 30% material kaca daur ulang.
Ø Kertas juga dapat didaur ulang dengan
mencampurkan kertas bekas yang telah dijadikan pulp dengan material
kertas baru. Namun kertas akan selalu mengalami penurunan kualitas jika terus
didaur ulang. Hal ini menjadikan kertas harus didaur ulang dengan
mencampurkannya dengan material baru, atau mendaur ulangnya menjadi bahan yang
berkualitas lebih rendah.
Ø Plastik dapat didaur
ulang sama halnya seperti mendaur ulang logam. Hanya saja, terdapat berbagai
jenis plastik di dunia ini. Saat ini di berbagai produk plastik terdapat kode
mengenai jenis plastik yang membentuk material tersebut sehingga mempermudah
untuk mendaur ulang. Suatu kode di kemasan yang berbentuk segitiga 3R dengan
kode angka di tengah-tengahnya adalah contohnya. Suatu angka tertentu
menunjukkan jenis plastik tertentu, dan kadang-kadang diikuti dengan singkatan,
misalnya LDPE untuk Low Density Poly Etilene, PS untuk Polistirena, dan
lain-lain, sehingga mempermudah proses daur ulang.
c.
Metode dan tahapan pada pengolahan
limbah gas
1.
Mengontrol
Emisi Gas Buang
Gas-gas
buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan hidrokarbon
dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat
dihilangkan dari udara hasil pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi
menggunakan filter basah (wet scrubber).
Mekanisme
kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya,
yaitu mengenai metode menghilangkan materi partikulat, karena filter basah juga
digunakan untuk menghilangkan materi partikulat.
Gas
nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dengan
cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon
dari hasil pembakaran kendaraan bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang
alat pengubah katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran.
Selain
cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat dikurangi kegiatan
pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan sumber bahan bakar alternatif
yang lebih sedikit menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
2.
Menghilangkan
Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan
a. Filter Udara
Filter udara
dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau stack, agar tidak ikut
terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih yang saja yang keluar dari
cerobong. Filter udara yang dipasang ini harus secara tetap diamati
(dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah penuh dengan abu/ debu) harus
segera diganti dengan yang baru.
Jenis filter udara yang digunakan tergantung
pada sifat gas buangan yang keluar dari proses industri, apakah berdebu banyak,
apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya
b. Pengendap Siklon
Pengendap Siklon
atau Cyclone Separators adalah pengedap debu / abu yang ikut dalam gas buangan
atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon
adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara / gas buangan yang sengaja
dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang
relatif “berat” akan jatuh ke bawah.
Ukuran partikel / debu / abu yang bisa
diendapkan oleh siklon adalah antara 5 u – 40 u. Makin besar ukuran debu makin
cepat partikel tersebut diendapkan.
c. Filter Basah
Nama lain dari
filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors. Prinsip kerja filter basah
adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian
atas alt, sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara
yang berdebu kontak dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air turun ke
bawah.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
dapat juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter basah digabungkan menjadi
satu. Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut menghasilkan suatu alat
penangkap debu yang dinamakan.
d. Pegendap Sistem Gravitasi
Alat pengendap
ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor yang ukuran partikelnya
relatif cukup besar, sekitar 50 u atau lebih. Cara kerja alat ini sederhana
sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat
sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan secara
tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul di bawah akibat gaya
beratnya sendiri (gravitasi). Kecepatan pengendapan tergantung pada dimensi
alatnya.
e. Pengendap Elektrostatik
Alat pengendap
elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah
(volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air.
Alat ini dapat membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat
ini sudah relatif bersih.
Alat pengendap
elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara
25 – 100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya
diberi muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan
pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya perbedaan
tegangan yang cukup besar akan menimbulkan corona discharga di daerah sekitar
pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah – olah mengalami
ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion
positif dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran yang
menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih
akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.
d.
Metode dan tahapan pada pengolahan
limbah B3
1.
Metode
pengolahan secara kimia, fisik dan biologi
Proses
pengolahan limbah B3 dapat dilakukan secara kimia, fisik, atau biologi.
Proses pengolahan limbah B3 secara kimia atau fisik yang umumnya dilakukan
adalah stabilisasi/ solidifikasi . stabilisasi/solidifikasi adalah proses
pengubahan bentuk fisik dan sifat kimia dengan menambahkan bahan peningkat atau
senyawa pereaksi tertentu untuk memperkecil atau membatasi pelarutan,
pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang. Contoh bahan
yang dapat digunakan untuk proses stabilisasi/solidifikasi adalah semen, kapur
(CaOH2), dan bahan termoplastik.
Metode
insinerasi (pembakaran) dapat diterapkan untuk memperkecil volume B3 namun saat
melakukan pembakaran perlu dilakukan pengontrolan ketat agar gas beracun hasil
pembakaran tidak mencemari udara.
Proses
pengolahan limbah B3 secara biologi yang telah cukup berkembang saat ini
dikenal dengan istilah bioremediasi dan viktoremediasi. Bioremediasi adalah
penggunaan bakteri dan mikroorganisme lain untuk mendegradasi/ mengurai limbah
B3, sedangkan Vitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk mengabsorbsi dan
mengakumulasi bahan-bahan beracun dari tanah. Kedua proses ini sangat
bermanfaat dalam mengatasi pencemaran oleh limbah B3 dan biaya yang diperlukan
lebih muran dibandingkan dengan metode Kimia atau Fisik. Namun, proses ini juga
masih memiliki kelemahan. Proses Bioremediasi dan Vitoremediasi merupakan
proses alami sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membersihkan
limbah B3, terutama dalam skala besar. Selain itu, karena menggunakan makhluk
hidup, proses ini dikhawatirkan dapat membawa senyawa-senyawa beracun ke dalam
rantai makanan di ekosistem.
2.
Metode
Pembuangan Limbah B3
a. Sumur dalam/ Sumur Injeksi (deep well
injection)
Salah
satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan cara
memompakan limbah
tersebut
melalui pipa kelapisan batuan yang dalam, di bawah lapisan-lapisan air tanah
dangkal maupun air tanah dalam. Secara teori, limbah B3 ini akan terperangkap
dilapisan itu sehingga tidak akan mencemari tanah maupun air. Namun, sebenarnya
tetap ada kemungkinan terjadinya kebocoran atau korosi pipa atau pecahnya
lapisan batuan akibat gempa sehingga limbah merembes kelapisan tanah.
b. Kolam penyimpanan (surface
impoundments)
limbah
B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat
untuk
limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah
perembesan limbah. Ketika air limbah menguap, senyawa B3 akan terkosentrasi dan
mengendap di dasar. Kelemahan metode ini adalah memakan lahan karena limbah
akan semakin tertimbun dalam kolam, ada kemungkinan kebocoran lapisan
pelindung, dan ikut menguapnya senyawa B3 bersama air limbah sehingga
mencemari udara.
c. Landfill untuk limbah B3 (secure
landfils)
limbah
B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus pengamanan tinggi. Pada metode
pembuangan secure landfills, limbah B3 ditempatkan dalam drum atau tong-tong,
kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah pencemaran
limbah B3. Landffill ini harus dilengkapi peralatan moditoring yang lengkap
untuk mengontrol kondisi limbah B3 dan harus selalu dipantau. Metode ini jika
diterapkan dengan benar dapat menjadi cara penanganan limbah B3 yang efektif.
Namun, metode secure landfill merupakan metode yang memliki biaya operasi
tinggi, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran, dan tidak memberikan solusi
jangka panjang karena limbah akan semakin
menumpuk.
Baccarat - Best Live Dealer Casino - FBCASINO
BalasHapusBaccarat is one of the most 바카라 popular games in the หารายได้เสริม casino, and it's easy to see why. It's easy to learn and easy to play, and 유튜브 음원 추출 it's